Selasa, 18 September 2012

Psikologi pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Berkenaan dengan obyek psikologi, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya : Psikologi Perkembangan,Psikologi Kepribadian,Psikologi Klinis, Psikologi Abnormal,
Psikologi Industri, Psikologi Pendidikan.
B.   Rumusan Masalah
       Dari Latar belekang masalah yang tertera di atas tentang sedikit penjelasan penulispun mengkategorikan kedalam beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1.      Pengertian Lupa dalam Belajar
2.       Pengertian Kejenuhan dalam Belajar
3.      Taksonomi Prilaku Individu
4.      Peranan dan Pengaruh Pendidikan Terhadap Perubahan dan Perkembangan Prilaku seseorang.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori tentang lupa dan jenuh
       Dalam proses belajar kita sering dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa tidak semua item-item materi pelajaran yang kita pelajari akan dapat diproduksi / direcall sewaktu item-item pelajar itu diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari sering juga terjadi suatu materi yang kita pelajari dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan, sulit kita kuasai dan mudah terlupakan dalam jangka waktu yang relatif pendek, dan sebaliknya terdapat materi pelajar yang kita dengan mudah menguasainya dan tidak dengan mudah melupakannya.
B.   Pengertian Lupa
1.     Pengertian lupa
       Menurut bahasa adalah tidak sadar (tahu akan keadaan dirinya atau keadaan sekelilingnya. Sedangkan lupa menurut istilah adalah gangguan otak yang serius mempengaruhi fungsi kognitif (intelektual), dan/atau daya ingat yang umumnya makin lama makin memburuk.
       Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.Dapatkah lupa dalam belajar siswa diukur secara langsung ?Witting(1981) menyimpulkan berdasarkan penelitiannya, peristiwa lupa yang dialami seseorang tak mungkin dapat diukur secara langsung.[1]
2.     Faktor-faktor penyebab lupa
1.1    Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam interference theory (teori mengenal gangguan), gangguan konflik ini terbagi menjadi dua macam, yaitu 1) proctive interference 2) rectroactive interference(Reber 1988; Best, 1989; Anderson, 1990).
       Proactive Interference (gangguan proaktif) adalah Gangguan ini terjadi jika item-item atau materi pelajaran yang lama telah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru..Dalam hal ini gangguan seperti ini terjadi jika seorang siswa mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam waktu yang relatif pendek.dalam keadaan demikian materi pelajaran yang baru sulit untuk diingat dan dengan sangat mudah untuk dilupakan.
       Retroactive Interference adalah Gangguan ini terjadi jika materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanennya siswa tersebut.
Dalam hal ini materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali (siswa tersebut lupa akan materi pelajaran lama itu).
1.2lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadpa item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak.Penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan.
a.       Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, pesan, dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekankannya hingga ke alam ketidaksadaran.
b.      Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang telah ada, jadi sama dengan fenomena retroaktif.
c.       Karena item informasi yang akan direproduksi (diingat kembali) itu tertekan ke alam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
       1.3lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Anderson, 1990).
       Jika seorang siswa hanya mengenal atau mempelajari hewan jerapah atau kuda nil lewat gambar-gambar yang ada di sekolah misalnya, maka kemungkinan ia akan lupa menyebut nama hewan-hewan tadi ketika melihatnya di kebun binatang.
       1.4lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi, meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karena sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.
       1.5menurut law of disuse (Hilgas & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
       1.6lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan nurat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alcohol, dan geger otak akan kehilangan ingatan atas item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.
       Meskipun penyebab lupa itu banyak aneka ragamnya, yang paling penting untuk diperhatikan para guru adalah faktor pertama yang meliputi ganngguan proaktif dan retroakrif, karena didukung oleh hasil riset dan eksperimen.Mengenai faktor keenam, tentu saja semua orang maklum.
       Kecuali gangguan proaktif dan retroaktif, ada satu lagi penemuan baru yang menyimpulkan bahwa lupa dapat dialami seorang siswa apabila item informasi yang ia serap rusak sebelum masuk ke memori permanennya. Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan tetap diproses oleh system memori siswa tadi, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut mungkin disebabkan karena tenggang waktu (delay) anatara saat diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi dalam memori jangka pendek siswa tersebut.[2]
3.     Kiat-kiat mengurangi lupa dalam belajar
       Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa, diantaranya : 
3.1  Overlearning (belajar lebih) yaitu belajar dengan melebihi batas penguasaan atas materi pelajaran tertentu. Upaya ini dapat dilakukan dengan belajar lebih dari pada kebiasaan-kebiasaan yang berklaku sehingga dapat memperkuat penyimpanan terhadap materi pelajaran yang dipelajari.
3.2  Extra study time (tambahan jam pelajaran) yaitu upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekrapan) aktifitas belajar. Sehingga dapat memperkuat terhadap materi yang dipelajari.
3.3   Memonic device (muslihat memori) yaitu upaya yang dijadikan alat pengait mental untuk mamasukkan item-item informasi kedalam sistem akalsiswa.Mengelompokkan kata / istilah tertentu dalam susunan yang logis.
3.4  Jembatan logika yaitu suatu siasat untuk menyerap, mengolah dan menyiapan informasi penting berupa pokok dalam penggalian informasi yang telah tersimpan dalam memori. Teknik ini berbentuk skema atau bagan yang dibentuk sedemikian rupa berdasarkan pokok pikiran dari suatu gagasan. 
C.   Jenuh dalam belajar
1.     Pengertian jenuh dalam belajar
       Secara harfiah arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun selain itu jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan. Dalam aktivitas belajarnya, sering seseorang mengalami jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau yaitu suatu situasi dan kondisi yang menunjukkan tidak adanya hasil belajar yang berhasil guna meskipun telah melaksanakan proses belajar pada waktu tertentu pada saat itu. Terjadi kemandekan pada sistem akalnya sehingga tidak dapat diharapkan untuk dapat menyerap item-item informasi yang dipelajarinya.[3]
2.     Faktor-faktor jenuh dalam belajar
       Faktor-faktor yang menyebabkan jenuh belajar adalah : 
2.A.  Seseorang yang kehilangan motivasi dan konsolidasi pada suatu level ilmu pengetahuan dan keterampilan.
2.B.  Muculnya kebosanan (borring) dan keletihan (fatique) karena kemampuan seseorang telah sampai pada batas maksimalnya dalam belajar. Menurut Cross dalam bukunya Psichology of learning keletihan ada 3 macam :
 Keletihan indera seperti mata, telinga dan lain-lain, keletihan fisik karena kurang tidur, kurang sehat, keletihan mental.
       Ada beberapa faktor yang menyebabkan keletihan mental yaitu : 
1.      Kecemasan seseorang terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri.
2.      Kekhawatiran seseorang akan ketidak mampuannya mencapai standar keberhasilan bidang-bidang studi yang dianggapnya terlalu tinggi terutama ketika seseorang tersebut sedang merasa bosan mempelajari bidang-bidang studi tersebut.
3.      Persaingan yang ketat yang menuntut belajar keras.
4.      Keyakinan yang tidak sama antara standar akademik minimum dan standar yang ia buat sendiri.
3.     Kiat-kiat menanggulangi jenuh belajar
       Ada beberapa cara untuk menanggulangi jenuh belajar yaitu: 
3.1  Istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak.
3.2  Menjadwal dengan baik proses belajarnya.
3.3  Menata kembali lingkungan belajarnya meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.
3.4   Memberi stimulasi baru dan motivasi agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat dari pada sebelumnya.
3.5  Membuat kegiatan yang menimbulkan keaktifan siswa dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.[4]







BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
       Lupa adalah hilangnya kemampuan menyebut atau melakukan kembali vinformasi dan kecakapan yang telah tersimpan dalam memori.
       Faktor-faktor vyang menyebabkan lupa meliputi :
a.       Adanya konflik-konflik antara item-item informasi atau materi pelajar yang ada di sistem memori seseorang.
b.      Adanya tekanan terhadap item atau materi yang lama baik disengaja atau tidak disengaja.
c.       Perbedaan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu memanggil kembali item tersebut. 
d.      Perubahan situasi dan minat terhadap proses dan situasi tertentu.
e.       Tidak pernah latihan / tidak pernah dipakai
f.       Kerusakan jaringan syaraf otak.
       Cara mengurangi lupa  :
a.       Belajar dengan melebihi batas penguasaan atas materi pelajaran tertentu.
b.      Menambah waktu belajar sehingga dapat memperkuat terhadap materi yang dipelajari.
c.       mengelompokkan kata atau istilah tertentu dalam susunan yang logis.

d.      Jenuh belajar adalah yaitu suatu situasi dan kondisi yang menunjukkan tidak adanya hasil belajar yang berhasil guna meskipun telah melaksanakan proses belajar pada waktu tertentu
        Faktor-faktor yang vmenyebabkan jenuh belajar :
a.       Seseorang yang kehilangan motivasi dan konsolidasi pada suatu level ilmu pengetahuan dan keterampilan.
b.      Muculnya kebosanan (borring) dan keletihan (fatique) karena kemampuan seseorang telah sampai pada batas maksimalnya dalam belajar.
       Cara menanggulangi jenuh belajar yaitu:
a.       Istirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi
b.      Menjadwal dengan baik proses belajarnya.
c.       Menata kembali lingkungan belajarnya.
d.      Memberi stimulasi baru dan motivasi.
e.       Membuat kegiatan yang menimbulkan keaktifan siswa.








DAFTAR PUSTAKA

-          Muchlis Shalihin, Buku Ajar Psikologi Belajar PAI, Stain Pamekasan, 2006
-          Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
-          Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995
-          Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2002
















[1]Muchlis Shalihin, Buku Ajar Psikologi Belajar PAI, Stain Pamekasan, 2006
[2]Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
[3]Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2002
[4]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar